Kamis, 05 Juli 2012

Misteri Gunung Kawi

Gunung Kawi, sebuah lokasi wisata ikon kota Malang yang dipercaya membawa berkah memang selalu membawa keberuntungan. Anda tidak percaya ? percayalah.
Anda akan menjadi orang yang tidak beruntung bila ke Malang tidak mampir ke Gunung Kawi, apalagi nanti malam itu Jumat Legi.
Gunung Kawi memang selama ini dipercaya membawa berkah. Siapa saja yang datang ke tempat itu, berharap segala usahnya, bisnis dan perjodohan dapat mengalir dengan mulus. Para politikus yang berambisi menjabat sebagai kepala daerah juga seringkali menggelar hajatan ke Gunung Kawi.
Ada seorang nenek yang tinggal di Kediri Jawa Timur keturunan Tionghwa. Mereka sangat percaya dengan Gunung Kawi yang memang membawa keberuntungan dalam berbisnis. Bisnis mertua memang lancar begitu ia pulang dari ritual di Gunung Kawi, gunung yang tingginya kurang lebih 800 meter dan berada di desa Wonosari Kecamatan Wonosari Malang Jawa Timur itu.
Kini nenek memilih menjadi seorang Moslem khusuk. Usaha toko yang menjual kebutuhan rumah tangga tidak lagi sebesar yang dulu. Bukan berarti lantas ia tidak pernah lagi ke Gunung Kawi, tetapi memang karena umurnya telah lanjut apalagi keempat anak-anaknya enggan meneruskan usahanya itu dan memilik berkarier di bidang perbankan.
Sejak tahun 1910, banyak orang keturunan Tionghoa yang "ngalap rejeki" di Gunung Kawi. Ong Hok Liong, pendiri pabrik rokok Bentoel di Malang juga sering berkunjung di Gunung Kawi.
Ia sering mengajak istrinya Liem Kiem Kwie Nio untuk bersemedi di dua makam Mbah Jugo dan Mbah Imam Sujono yang dikenal keramat di Gunung Kawi.

Gunung Kawi
Sebenarnya, kedua tokoh itu bukanlah seorang keturunan Tionghwa, namun merupakan 2 dari 75 pengikut Pangeran Dipenogoro yang melarikan diri ke Malang pasca penangkapan Pangeran Dipenogoro oleh Kolonel Du Perron dan Mayor Michiels atas perintah Jenderal de Kock pada 26 Maret 1830.

Dari Magelang, Pangeran Dipenogoro sendiri kemudian Batavia setelah itu di Menado dan terakhir diasingkan di Makassar hingga akhir hayatnya pada 8 Januari 1855.

Ketika di Malang yang saat itu masih masuk dalam karasidenan Pasuruan, Mbah Jugo dan Mbah Imam Sujono bersama rekan-rekannya tidak melakukan perlawanan terhadap kompeni Belanda, malah menyiarkan agama Islam.

Prasasti di Pasarean Gunung Kawi yang bertuliskan dalam bahasa Jawa dan satu lagi bertuliskan tulisan latin menceritakan aktifitas Mbah Jugo dan Mbah Imam Sujono.

Lalu mengapa kedua makam itu menjadi sangat spesial bagi Ong Hok Liong dan beberapa masyarakat keturunan Tionghwa lainya ? Padahal di Jawa Timur sendiri banyak tempat pemakaman penyiar agama Islam.

Pertanyaan itu hingga kini masih misterius.
Ong, juga mungkin masyarakat Tionghwa lainnya tidak mau ambil pusing soal sejarah itu. Ong tetap percaya memenuhi syarat-syarat yang diperlukan untuk beritual di kedua makam itu membawa berkah bagi usaha rokok yang mulai dirintisnya. Apalagi Ong sering mengalami kegagalan dalam memasarkan rokok buatannya yang terus melesu. Mulai dari rokok merek tjap Boeroeng, Kelabang, Kendang, Toerki, Djeroek Manis dan lain-lain.

Usaha Ong tidaklah sia-sia. Suatu malam, saat beritual, Ong bermimpi melihat seorang penjual bentul. Ketika terbangun ia menceritakannya kepada penjaga makam, dan kemudian atas saran dan petunjuk penjaga makam, Ong mengganti produknya dengan nama Bentoel. Tahun 1947, pabrik rokok Bentoel mencapai kesuksesan yang luar biasa.

Hingga kini, rokok Bentoel menjadi produk andalan kota Malang yang produknya diisap oleh ribuan perokok di Indonesia. Bentoel juga menjadi sponsor klub sepak bola Arema Malang kebanggaan kera Ngalam (bahasa Kawilan, dibalik arek Malang).

Keuntungan Penduduk Desa
Ternyata benar juga bunyi pesan singkat rekan tadi. Saya beruntung bisa berkunjung di Gunung Kawi. Meskipun tidak menggelar hajatan, namun saya puas memotret satu per satu kehidupan di malam Jumat Legi di Gunung Kawi.

"Silakan beli bunga Mas, murah kok hanya Rp 2000 saja per bungkusnya, " teriak pedagang bunga bersahutan. Sementara di bagian sisi lain, puluhan pengemis duduk sambil menyodorkan topinya meminta uang kepada pengunjung.
"Dulu taipan Liem Sioe Liong sering membagikan uang Rp 5000,- kepada siapa saja termasuk para pengemis. Pak Ong juga ketika sukses membangun semua fasilitas di Gunung Kawi dan sering menggelar tanggapan wayang, " kata Munaji (40) warga desa setempat yang menjadi pemandu saya.

Munjadi itu hafal benar seluk beluk areal wisata ritual Gunung Kawi. Ia lahir dan besar di tempat itu. Bahkan, ia sempat menjadi preman yang mencicipi aliran uang yang ada di Gunung Kawi dengan memungut uang keamanan dari pengusaha hotel yang ada di sekitar Gunung Kawi.

Sekarang Munaji telah meninggalkan dunia preman, ia memilih bekerja sebagai penjual bakso Malang di kota Semarang Jawa Tengah 13 tahun lamanya.

Di sekitar Gunung Kawi memang dikenal sebagai kampung para penjual bakso. Mereka tidak saja berjualan di Jawa Timur, namun merantau luar kota dari Jakarta hingga ke Kalimantan. Menurut cerita sebelum penjual bakso ini merantau untuk menjajakan dagangannya, mereka sering meminta restu di kedua makam ini dengan harapan usahanya bisa lancar di tempat yang menjadi perantauannya itu.

Meskipun lama meninggalkan kampung halamannya, namun hampir semua pedagang, yang mayoritas penduduk sekitar Gunung Kawi, mengenalnya. Pantas saja, saya dibebaskan membayar uang parkir kendaraan. Padahal jikau malam Jumat Legi tarif untuk parkir kendaraan bisa dua kali lipat.
Harga itu bisa 10 kali lipat jikau menjelang Hari Raya Idul Fitri. Sedangkan untuk tarif sewa hotel, ada beberapa hotel yang mematok tarif lebih mahal dibandingkan dengan hotel berbintang kelas I di Jakarta setiap hari raya besar tertentu. Kalaupun hari biasa tarifnya antara Rp 120 ribu sampai Rp 200 ribu.

Meskipun biaya yang dikeluarkan wisatawan tidalah murah, namun tetap saja pengunjung di tempat itu tidak pernah berubah. Gunung Kawi selalu padat pengunjung.
"Sebagian masyarakat di sekitar Gunung Kawi sangat bergantung kepada Gunung Kawi. Mereka hidup berkecukupan, bahkan menjadi orang kaya dari hasil menjual barang dan jasa, " kata Munaji.

Yayasan Ngesti Gondo, lembaga yang secara resmi menjadi pewaris tanah Pasarean dan berhak menyandang jabatan "pengadeg juru kunci makam", memberikan kesempatan bagi warga desa setempat untuk berdagang di Gunung Kawi.

Bagi mereka yang tidak mempunyai modal untuk membuka usaha, kata Munaji, bisa menjadi guide bahkan preman yang meminta 'pajak keamanan' dari beberapa hotel ataupun usaha lainnya. Sebagai imbalannya, preman itu menjamin keamanan pengunjung hotel.

"Dulu saya bisa mendapatkan uang Rp 5 juta per bulan tanpa harus bekerja apapun. Saya tinggal meminta setoran ke beberapa hotel, " kata Munaji.

Tidak hanya Munaji saja yang mendapatkan cicipan aliran uang disana, Rubaidah (56), petugas dapur yang memasak keperluan selamatan juga mendapatkan rejeki besar di setiap malam Jumat legi dan hari-hari besar lainnya.

"Hari ini saya menggoreng 700 ayam dan 300 kambing. Jumlah ini naik 70 persen dibandingkan hari biasa. Ya, ini memang malam keberuntungan saya karena setelah memasak ini saya akan mendapatkan uang lelah dari pihak pengelola, " katanya yang sudah bekerja di Gunung Kawi belasan tahun lamanya.

Akulturasi
Seperti yang sudah saya katakan, saya memang beruntung bisa berkunjung ke Gunung Kawi. Sebuah berkah tersendiri ketika disana dapat melihat akulturasi budaya China dan Jawa.

Sebelum bertugas menjual dupa untuk sembayangan, Sukirman (50) merias diri dengan busana Jawa. Kemudian ia berlari melayani pengunjung yang hendak melakukan sembayangan di sebuah pendopo.

"Sebagian besar karyawan yang bekerja di sini diwajibkan memakai busana Jawa, " katanya kepada kami.
Sukirman yang telah bekerja hampir 20 tahun itu mengaku senang melayani semua pengunjung termasuk warga keturunan Tionghwa. Selain mendapatkan gaji dari pihak pengelola, ia banyak menerima angpao dari pengunjung sebagai tanda terima kasih telah melayani dengan baik.

Sukirman pun juga bertugas menjaga api puluhan lilin raksasa, yang harga sebijinya bisa mencapai Rp 35 juta sampai Rp 40 juta. Ia harus menjaga agar api di lilin tetap menyala karena diyakini berkaitan dengan kelangsungan bisnis sang empunya lilin. Jika api itu sampai mati, dipercaya sebagai pertanda matinya bisnisnya.

Jika lilin yang bisa bertahan sampai setahun itu hampir habis, Sukirman menghubungi pemilik lilin untuk mengganti lilin tersebut. Terkadang pemiliknya datang dan mengganti, namun tidak sedikit pula yang cukup mentransfer uang kepada penjaga untuk menggantinya.

"Disini tidak ada diskriminasi suku. Baik itu Jawa ataupun Tionghwa sama saja karena tujuannya cuma satu yaitu berdoa, " katanya.

Suasana percampuran budaya China dan Jawa memang terlihat sejak awal masuk ke lokasi wisata ritual Gunung Kawi. Di gerbang pintu masuk misalnya, desaign gerbang mirip dengan bangunan China dengan bertuliskan tulisan Jawa.

Begitu juga dengan bentuk pendapa persembanyangan, bangunan dibangun modal bangunan Jawa namun penuh dengan aksesori dari China, seperti lampion dan tulisan huruf Tionghwa.

Selain bangunan dengan modifikasi China dan Jawa, suasana di sepanjang jalan mirip dengan kawasan di Pecinan. Banyak restoran, toko barang antik dan aksesori maupun penjual kelontong yang menawarkan barang beraneka ragam khas Jawa dan China.

Ada penjual batu akik, penjual api lilin raksana dan perlengkapan ritual masyarakat Tionghwa. Di sana juga tampak keramaian suara kocokan dan bunyi gemeretak lemparan kartu ciamsi, hiruk pikuk peramal nasib jangka pendek dan suara gamelan Jawa yang mengiringi pagelaran wayang kulit.

Pemerintah daerah kabupaten Malang sendiri berkomitmen melestarikan seluruh budaya yang ada di Gunung Kawi yang menjadi ikon kota Malang. Untuk menarik wisatawan, pemerintah telah mengagendakan gebyar wisata ritual setiap perayaan 1 Muharram.

Salah satu acara atraktif yang ditampilkan adalah pawai kreasi‘ogoh-ogoh’ atau patung yang berbentuk raksasa sebagai simbul keangkaramurkaan. Patung yang dibuat selanjutnya di bakar, namun sebelumnya diarak terlebih dahulu oleh warga dari lapangn desa dan berakhir di makam Gunung Kawi.

0 komentar:

Poskan Komentar